SKENARIO JACQUES DE COUTO DI SELAT MELAKA

Oleh Nia Deliana

 

Jakobus van de Koutere alias Jacques de Coutre alias Jacques de Couto (JDC) adalah seorang pedagang berkebangsaan Spanyol dari Belgia yang diperkirakan lahir tahun 1572 dan meninggal pada tahun 1640. Ia menghabiskan kira-kira lebih dari 30 tahun di Asia sebagai pedagang independen sekaligus informant Spanyol di Hindia Timur.

JDC menulis diari perjalanannya di Asia Tenggara dengan dibantu oleh putranya bernama Esteban. Catatan hidup yang ditulis dalam Bahasa Spanyol ini berada dalam perawatan Biblioteca Nacional de Espana (Perpustakaan Nasional Spanyol) di Madrid. Dengan bantuan pakar sejarah Portugis, Peter Borschberg dan Roopanjali Roy, buku yang berjudul asli Vida de Jaques de Coutre telah diterbitkan dalam Bahasa Inggris dengan judul The Memoirs and the Memorials of Jacques de Coutre: Security, Trade and Society on 16th-17th century Southeast Asia (Riwayat Hidup dan Kenangan Jacques de Coutre: Keamanan, Perdagangan dan Masyarakat Asia Tenggara pada abad ke-16 dan ke-17). Penerbitan buku ini didanai oleh kantor Arsip Nasional Singapura. Catatan JDC menyuguhkan gambaran penting realita keamanan, perdagangan, dan masyarakat Eropa di kawasan Nusantara pada periode tersebut diatas.

Jacques de Coutre di Asia Tenggara

Didaratkan dari kapal Portugis di pelabuhan Melaka pada tahun 1593, JDC disambut oleh pedagang Itali terhormat bernama Sequin Martinela yang kemudian mengambilnya sebagai personel resmi perdagangannya. Ia juga dibantu dengan pelayanan baik dari Kapten Portugis-Melaka, Fransisco de Silva de Meneses. Antara tahun 1594 hingga tahun 1603 ia menjajaki perdagangan di Asia Tenggara.

Dalam masa kediamananya di Melaka, JDC kerap melakukan perdagangan ke wilayah lainnya di Nusantra. Enam bulan berada di Melaka, ia pergi ke Pahang.  Dalam perjalanan ini ia melewati pesisiran Semenanjung Melayu; sungai Batu Pahat, Pulau Pisang, Tanjung Bulus dalam pemandangan pulau Karimun, dan area sekitaran selat Singapura lama. Kawasan terakhir berada dibawah kekuasan Kesultanan Johor.

Dari Pahang ia kembali menuju Melaka untuk kemudian berangkat bersama delegasi Portugis menuju Siam dilanjutkan dengan menghadiri pertemuan di Kerajaan Ayutthaya. Ia merekam keberadaannya disana selama 8 bulan. Petualangannya tidak berakhir dengan baik. Ia dan teman-temannya harus melarikan diri ke Kamboja yang sedang berada dalam konflik dengan Laos.

Tiba di Melaka, ia menemui kemalangan yang diakibatkan oleh perpecahan politik yang mengakibatkan desa-desa yang menaungi ribuan rumah terbakar, tidak terkecuali rumah tempat tinggalnya.

Berhari hari setelah tragedi tersebut, ia berlayar menuju Manila melalui teluk Brunei, Palawan, dan Mindoro. Deskripsinya tentang istana dan pelabuhan Brunei adalah yang paling awal yang pernah ditulis oleh saksi mata Eropa. Ia mencatat, Manila merupakan tempat yang diduduki oleh 40,000 orang Cina yang mata pencahariannya adalah berdagang dan professional terhadap bahan-bahan dagang mekanik. Mereka merupakan penduduk lokal dan pekerja keras, sebagaimana orang Cina pada umumnya. Disana ia juga menyaksikan pertarungan kapal-kapal Spanyol dibawah komando panglima laut Olivier van Noort.

De Coutre menetap di Manila selama dua tahun.

Dalam perjalanan pulangnya ke Melaka. Tepatnya di pesisiran Borneo, badai menghantam kapalnya yang kemudian membawanya menuju Riau. Kira-kira sebulan ia berada disana tanpa kepastian keselamatan pelayarannya, akhirnya dengan menyandera seorang nelayan lokal, ia melanjutkan perjalanannya menuju Melaka. Sandera tersebut ia lepaskan ketika sampai di Johor dengan pemberian imbalan sesuai yang dijanjikan.

Saat tiba di Melaka, niatnya semula yang ingin pergi menuju Goa untuk menikah tertunda dikarenakan kurangnya kapal-kapal yang dating memasok perdagangan dari Melaka. Akhirnya ia menuju Patani dan berdagang cengkeh yang berhasil ia bawa sebelumnya dari Manila. Disana ia dan teman-teman dagangnya bertemu dengan Ratu Patani dimana dengan surat Fernao de Albuquerque, ia mengajukan perjalinan hubungan dagang dengan Patani dan mendapatkan barang-barang untuk koloni Portugis. Namun nasibnya disana tidak menguntungkan dikarenakan permusuhan antara pihak Portugis dan Belanda yang saling memperebutkan monopoli dagang di Patani.

Dengan pertolongan seorang perempuan bangsawan Patani yang menyelundukannya dalam kapal kerabatnya, JDC berlayar menuju Melaka melalui Batu Sawar. Di Batu Sawar ia berhadapan dengan konflik antara Kesultanan Johor dan Portugis-Melaka. Meskipun dalam keadaan berbahaya, ia berhasil menjangkau Melaka dan kemudian berangkat menuju Goa pada tahun 1603.

Upaya mengail di Air Keruh

Meskipun tidak secara langsung mengunjungi Aceh, tampaknya de Coutre yang mondar-mandir Melaka memiliki pengetahuan signifikan tentang Kesultanan Aceh Darussalam. Barangkali ini dikarenakan tahun tahun tersebut adalah periode penyerangan Aceh terhadap Portugis-Johor dan Portugis-Melaka. Ia banyak menyebutkan tentang Aceh dalam surat-suratnya yang ia tujukan pada raja mahkota Spanyol dan wakilnya. Dikarenakan Aceh merupakan satu satunya kekuatan politik yang menyerang Portugis di Selat Melaka, JDC menelisik bagaimana kondisi tersebut dapat menguntungkan bagi Raja Spanyol, seumpama mengail ikan di Air Keruh.

Dalam catatannya ia menulis bahwa sebulan setelah kembali dari Pahang, JDC berlayar menuju Johor untuk berdagang dengan seorang teman Portugisnya. Di Johor ia bertemu dengan tiga tentara Kastilian yang dipimpin oleh Kapten Gallinato yang baru saja kembali dari Kambodia dengan kemenangan telak. Karena meningkatnya pemberontakan di Kamboja, Kapten Gallinato harus kembali kesana dengan meninggalkan seorang prajuritnya yang bernama Don Luis del Castillo yang hendak menuju Melaka.

Don Luis memperkenalkan dirinya kepada Sultan Johor, Raja Ali Jalla bin Abdul Jalil sebagai kerabat dari Kaisar Spanyol. Dan ia bisa mengatur bantuan militer Spanyol kepada Johor khusus untuk melawan Aceh. Namun akhirnya, Sultan Johor mengetahui janji untuk mengirimnya armada adalah sebuah penipuan. Ia mati dibunuh dalam konspirasi dengan awak kapan yang dihadiahkan oleh Sultan Aceh. JDC menulis “Ini merupakan takdir Don Luis del Castillo, yang mengaku kerabat Kaisar Spanyol tapi pada kenyataanya ditangannyalah darah para Muslim tumpah dan pernah di cambuk di Spanyol Baru dan (telah) diasingkan dari Filipina.”

Setelah kematian Raja Ali (Jalla bin Abdul Jalil), cucu dari Raja Melaka yang bergelar “Raja Agung Melayu”, De Coutre mencatat bahwa monarki terpenting yang ada di bagian Selatan saat itu adalah Kesultanan Aceh.

JDC juga menulis bahwa ia mengenal seorang negosiator sekaligus penterjemah bagi seorang Kapten Melaka yang sedang menjabat sebagai duta besar Batu Sawar. Ia bernama Khoja Ibrahim, orang asli Melaka yang ditugaskan untuk menyatukan armada Johor dan Portugis untuk menyerang kesultanan Aceh.

Dalam suratnya yang ia tulis kepada Raja Spanyol, ia mengusulkan beberapa strategi yang dapat menguntungkan Spanyol dalam menandingi Belanda di Hindia Timur. Selain menganjurkan komoditi dagang dan menjelaskan rute perdagangan yang dijalankan Belanda dari Hindia Timur, ia juga menginisiatifkan rute aman dan menguntungkan yang perlu dilalui oleh kapal-kapal dagang dan armada Spanyol. Rute tersebut dimulai dari Portugal menuju Mozambique dan kemudian Mombasa. Ia menyadari untuk harus memanfaatkan arah angin munsun. Ia menekankan agar kapal-kapal tersebut sampai pada bulan Juli karena mereka akan dapat dengan mudah berlayar menuju Selat Bab el-Mandeb dimana kapal-kapal Muslim dari Turki, Aceh, Masulipatnam, dan muslim Kambay serta seluruh kapal dari bagian India berlayar menuju Mekka dari Aden. Jika kapal-kapal spanyol dapat melalui rute tersebut maka mereka punya peluang untuk menyerang kapal-kapal tersebut dan merampas barang-barang dagangannya.

JDC juga menyaksikan bahwa di Masulipatnam dimana Belanda dan Inggris mengoperasikan pabrik-pabrik mereka disana, ada banyak kapal-kapal yang dikendalikan oleh Muslim dari Bengal, Aceh, Mekkah, Pegu dan dari kawasan lain India.

Dalam suratnya yang lain, masih ditujukan pada Raja Spanyol, JDC mengajukan permintaan untuk pembangunan banteng pertahanan dan citadel. Ia menyebutkan bahwa, jika Raja Spanyol setuju untuk membangun sitadel dan banteng-benteng pertahanan di kawasan Selat (baca: Singapura, Batu Sawar, Johor dll), pembangunan tersebut harus dilakukan dengan memprioritaskan fungsi banteng yang kokoh untuk menghalangi armada-armada musuh menghancurkannya, bahkan oleh armada-armada Aceh sekalipun. Dalam keterkaitan dengn Aceh, JDC mengingatkan bahwa armada Aceh telah memenangkan serangan terhadap Batu Sawar pada tahun 1613 dan mendudukinya untuk beberapa masa yang kemudian direbut kembali oleh Portugis dengan 1500 prajurit sebagaimana perebutan yang sama juga terjadi terhadap Pahang yang sebelumnya telah berhasil diduduki oleh Raja Aceh.

Dengan kenyataan Melaka telah kehilangan perannya sebagai pusat perdagangan di Asia Tenggara dan meningkatnya aktivitas-aktivitas dagang yang dilakukan oleh wilayah-wilayah pembangkang monarki Portugis, termasuk Aceh, pembangunan citadel, banteng dan puri-puri di Selat Singapura ini akan menguntungkan armada Spanyol. Dari citadel tersebut, Pedagang-pedagang Spanyol dapat memperoleh persediaan komoditi dagang dari kapal-kapal yang berlayar menuju Melaka ataupun yang bepergian menuju Aceh.

Ia juga menekankan banteng-banteng tersebut perlu dibangun setangguh mungkin agar dapat menghalangi Raja Aceh untuk mengaitkan armadanya di Johor ataupun Pahang dan mereka terpaksa harus melewati Selat Kundur atau meninggalkan Pulau tersebut atau terus berlayar melewati keduanya. Intinya citadel tersebut dapat menghalangi pergerakan mereka. Untuk tujuan yang sama, citadel lain juga ia usulkan untuk dibangun di ujung perairan Muar.

Dari sekian narasi yang dituliskan JDC, yang paling menarik adalah mengenai kemungkinan Raja Spanyol dapat mengalahkan Aceh. Tulisnya, kekalahan Aceh dapat terwujud melalui tangan-tangan 4 saudara Raja Johor yang saat itu merupakan Raja di Siak, Kampar, Bengkalis, dan Aru (sekarang Deli di Medan). Kesemua wilayah tersebut pernah diserang dan diduduki oleh Raja Aceh. JDC berpendapat bahwa latar belakang ke empat bersaudara tersebut yang berdarah Melayu akan mempersatukan mereka untuk melawan Aceh. Artinya, JDC secara tidak langsung menekankan bahwa orang Aceh bersuku berbeda dari mereka yang Melayu.

Dalam surat lain, masih ditujukan pada Raja Spanyol dan wakilnya, JDC memaparkan beberapa halaman strategi penaklukkan di Asia Tenggara yang dapat dijalankan oleh Spanyol. Aceh merupakan salah satu wilayah yang ia tekankan perlu dikuasai.  Sebagaimana ia memaparkan alasan mengapa Portugis dan Belanda begitu terbosesi untuk menaklukkan Aceh, ia menegaskan hal yang sama jika Spanyol berhasil mengalahkan Belanda di perairan Hindia Timur. Ia begitu yakin bahwa keuntungannya adalah sumber daya alam yang kaya dan kondisi geografis yang bagus untuk meluaskan armada dan menghancurkan perdagangan para pemberontak. Di pelabuhan Aceh, tulisnya, Belanda memasoki berton-ton lada sebagaimana pelabuhan ini juga secara rutin disinggahi oleh kapal-kapal Turki dari Mekkah dan dari seluruh bangsa India.

Arah angin adalah salah satu taktik perang yang paling mempengaruhi keberhasilan dalam menyerang Aceh. Jika angin alpa atau arahnya tidak sesuai yang diinginkan, ia mengusulkan armada armada Spanyol untuk melalui pulau Nikobar. Penyerangan Aceh, ia tekankan, harus dilakukan tanpa peringatan, alias tiba tiba.

Sepanjang Sejarah, Spanyol tidak begitu berhasil mejejalkan taringnya di Asia Tenggara. Dari sekian banyak wilayah, Filipina adalah kawasan yang barangkali begitu kental dengan legasi penjajahan Spanyol yang masih bisa disaksikan hari ini.

Catatan JDC adalah catatan yang penting yang tidak hanya menggambarkan minat perdagangan Eropa yang ambisius tapi juga merekam kondisi keamanan yang buruk bagi pedagang-pedagang Eropa Spanyol yang hidup antara persengkataan Portugis dan Belanda dan kondisi masyarakat akhir abad ke 16 hingga paruh awal abad ke-17.

 

Telah terbit sebelumnya di http://portalsatu.com/berita/aceh-dalam-skenario-penaklukan-spanyol-10830

 

Advertisements